Langkah Sukanto Tanoto Untuk Bersaing di Level Global

Pengusaha Sukanto Tanoto merupakan salah satu pebisnis Indonesia yang mampu bersaing di pasar global. Namun, perjuangan keras dengan sejumlah tahapan berat mesti diambilnya.

Bisa bersaing di level internasional mungkin menjadi impian bagi banyak pengusaha di Indonesia. Tapi, hanya sedikit yang bisa melakukannya. Sebab, untuk mencapainya memang tidak mudah.

Sukanto Tanoto contohnya. Pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle (RGE) ini bisa mengantarkan perusahaannya bersaing di pentas dunia. Ini dilakukannya melalui perjalanan bisnis yang panjang.

RGE didirikannya pada 1973 dengan nama awal Raja Garuda Mas. Pada awal berbisnis di tahun 1967, Sukanto Tanoto masuk ke sektor general contractor & supplier. Namun, ia akhirnya menerjuni bisnis sumber daya yang hingga kini terus ditekuni.

Bidang pertama yang digeluti adalah kayu lapis, tapi kini Sukanto Tanoto sudah tidak menjalankannya lagi. Bersama RGE, ia ganti berkecimpung di sektor kelapa sawit, selulosa spesial, pulp dan kertas, serat viscose, serta minyak dan gas.

Berkat itu, Sukanto Tanoto memiliki predikat sebagai Raja Sumber Daya. Hal itu tidak lepas dari kesuksesan dalam membesarkan RGE. Perusahaannya itu sekarang ditaksir memiliki aset 18 miliar dolar Amerika Serikat dan mempunyai karyawan lebih dari 60 ribu orang. Mereka tersebar di berbagai unit bisnis yang tidak hanya ada di Indonesia, tapi juga di Brasil, Tiongkok, Kanada, serta Spanyol.

Sebelum mencapai level kesuksesan tersebut, Sukanto Tanoto mesti berjuang keras. Bersama salah satu unit bisnis dari RGE, Grup APRIL, misalnya. Sukanto Tanoto harus mengambil jalan panjang sebelum menggapai keberhasilan.

APRIL berdiri pada 1993 di Pangkalan Kerinci, Riau. Mereka kini tercatat sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Setiap tahun, APRIL mampu memproduksi pulp sebanyak 2,8 juta ton dan kertas hingga 1,15 juta ton. Untuk mendapatkan bahan baku, mereka mengelola perkebunan yang ditanami pohon akasia seluas 480 ribu hektare.

Namun, APRIL bukan pengalaman pertama Sukanto Tanoto dalam industri pulp dan kertas. Ia sempat memiliki perusahaan serupa di kawasan Sumatra Utara. Namun, kegagalan diperolehnya.

Ketika itu, perusahaannya belum mampu mengelola limbah dengan baik. Ini berakibat mereka harus menghentikan operasional perusahaan. Namun, jatuh seperti itu tidak membuat Sukanto Tanoto menyerah. Ia bersemangat untuk bangkit lagi di industri pulp dan kertas bersama APRIL.

Bahkan, kegagalannya di Sumatra Utara malah dijadikan pelajaran. Semuanya menjadi fondasi untuk membangun perusahaan serupa yang jauh lebih baik di Pangkalan Kerinci, yakni APRIL.

Dari sini terlihat langkah pertama agar bisa menembus pasar internasional seperti Sukanto Tanoto. Ia harus berani memulainya terlebih dulu. Setelah menerjuni secara langsung nanti bakal ada berbagai hal yang dapat dijadikan pelajaran untuk berkembang.

Setelah itu, langkah berikutnya yang diambil Sukanto Tanoto adalah menyesuaikan operasional perusahaan dengan standar internasional. Terkait hal ini, pria kelahiran Belawan ini tidak sungkan untuk belajar langsung ke luar negeri.

Brasil menjadi negara tujuan yang dipilih untuk belajar. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Pertama Negeri Samba dikenal sebagai salah satu negara penting di industri pulp dan kertas dunia. Mereka mempunyai kemampuan yang baik dalam mengelola perkebunan sebagai sumber bahan baku. Selain itu, perusahaan-perusahaan di sana pintar membuat produk-produk selulosa.

Kebetulan Brasil memiliki iklim yang sama dengan Indonesia. Negeri ini sama-sama beriklim tropis. Alhasil, belajar pengelolaan perkebunan berkelas internasional di sana terasa sangat pas karena dapat diterapkan di sini.

PABRIK BERKELAS DUNIA

pabrik berkelas dunia

Belajar di Brasil dimanfaatkan oleh Sukanto Tanoto untuk melakukan alih teknologi. Sembari menimba ilmu, ia berusaha mentransfer teknologi sebanyak-banyaknya dari sana untuk bisa diterapkan di Indonesia.

Setelah itu, Sukanto Tanoto tahu bahwa untuk bisa bersaing di pentas internasional harus mampu menjalankan proses operasional perusahaan berkelas dunia. Hal itu akhirnya membuatnya menjadikan APRIL melakukan operasi dengan standar tinggi.

Proses produksi misalnya. Mereka sengaja mendesain pabrik supaya bisa menghemat sumber daya. Ini penting karena penghematan akan memungkinkan APRIL mampu kompetitif dengan perusahaan lain.

APRIL memilih mendesain pabrik pulp dan kertas supaya lebih ramping. Akibatnya, saat dibandingkan dengan pabrik lain, pabriknya terlihat lebih kecil.  Hal itu ternyata berdampak besar. Penghematan yang diinginkan oleh perusahaan Sukanto Tanoto tersebut bisa diraih. Berkat desain ramping yang dibuat, operasional APRIL bisa menghemat dan menjadi lebih efisien hingga 92 persen.

Sebagai pelengkap, APRIL menerapkan konsep terintegrasi di kawasan produksinya. Lagi-lagi ini dilakukan supaya proses produksi bisa efisien.

Saat ini, pabrik milik perusahaan Sukanto Tanoto tersebut terintegrasi dengan perkebunan. Dengan demikian, penghematan bisa diperoleh. Sebagai contoh sederhana. APRIL mampu menekan penggunaan bahan bakar yang diperlukan untuk sarana pengangkutan bahan baku karena kebun pohon akasia ada di sekitar area perusahaan.

Terlepas dari itu, Sukanto Tanoto tahu bahwa syarat untuk bisa bersaing di pasar internasional adalah produk berkualitas tinggi. Jika produknya tidak bermutu, maka jangan berharap bisa diterima di pasar global.

Oleh sebab itu, bersama APRIL, ia berkeras menghasilkan produk bermutu. Salah satu langkah untuk mewujudkannya dengan memanfaatkan teknologi tercanggih untuk pembuatan pulp dan kertas.

Saat ini, perusahaan Sukanto Tanoto tersebut mengoperasikan mesin dengan teknologi modern yang disebut sebagai Paper Machine 3. Mesin ini memiliki berbagai kelebihan yakni memiliki kemampuan produksi yang tinggi, namun mampu menekan penggunaan energi. Alhasil, mesin ini jauh lebih ramah lingkungan.

Lihat saja kapasitas produksi yang dihasilkan. Mesin mampu memproduksi kertas sepanjang 1,4 kilometer per menit. Kebetulan mesin ini sanggup menghasilkan produk kertas yang sangat baik untuk keperluan digital. Teknologinya merupakan yang pertama di Indonesia. Sebab, cetakannya menghasilkan warna yang lebih merata dan cemerlang.

Kualitas tinggi terlihat jelas di berbagai produk APRIL. Contohnya kertas. Hasil cetak ternyata lebih sempurna. Selain itu, derajat putih lebih tinggi, serta kertas lebih tebal dan tidak merusak printer karena partikelnya merata. Bukan hanya itu, kertas yang dihasilkan juga dapat mendukung penghematan tinta. Teknologi di pabrik canggih itu memungkinkan pengguna menghemat  pemakaian tinta sebesar 15% dibandingkan saat mencetak menggunakan kertas biasa.

Kualitas tinggi di produk-produk APRIL akhirnya berdampak besar. Harapan yang dilambungkan oleh Sukanto Tanoto tercapai. Perusahaannya benar-benar mampu bersaing di pentas global.

Salah satu buktinya terlihat dari performa PaperOne. Ini adalah merek kertas premium buatan APRIL. PaperOne kini laris di pasar internasional. Produknya sudah dijual di 70 negara. Akibatnya, APRIL sampai mengalokasikan hasil produksi lebih banyak untuk memenuhi permintaan luar negeri.

Fakta ini menunjukkan bahwa pilihan untuk menerapkan standar kelas dunia dalam operasional perusahaan menjadi keharusan untuk bersaing di tingkat internasional. Sukanto Tanoto berhasil melakukannya. Tidak hanya bersama APRIL, dengan unit-unit bisnis dari RGE lain, keberhasilan serupa juga diraih.




WhatsApp chat